Valentine,
semua orang yang mengenal peradaban pasti pernah mendengar istilah ini.
Valentine merupakan suatu perayaan dari kaum borjuis di Eropa dan Amerika untuk
menunjukkan serta merayakan hari kasih sayang. Biasanya perayaan ini berupa
orang yang saling bertukar kado atau saling memberi coklat, bunga, dan hal-hal
lain yang dapat membahagiakan pasangannya.
Mulanya
valentine hanya diperuntukkan oleh para pemuka agama tertentu untuk menarik
minat masyarakat di sekitar lokasi tempat ibadah agar lebih rajin untuk datang
beribadah. Lambat laun kebiasaan ini berlanjut keseluruh lapisan masyarakat
hingga sekarang dan bahkan kini meluas hingga ke seluruh penjuru dunia dan kini
setiap negara pemuja valentine memiliki persepsi dan perayaan yang berbeda
beda.
Di
Indonesia sendiri valentine bukan lagi hal tabuh karena keberadaannya pun sudah
cukup lama, akan tetapi ada hal-hal yang menyangkut perayaan valentine yang
hingga saat ini masih belum dapat diterima masyarakat kita karena diangaap
tidak sesuai sejarah, adab, bahkan budaya yang sudah turun-temurun oleh
masyarakat kita lakukan. Hal ini tidak lain karena perayaan valentine yang
masih dianggap sangat fulgar yaitu belum sesuai dengan apa yang kita anggap
benar sekarang.
Salah
satunya yaitu keberadaan free seks
pada setiap perayaan valentine ini yang dianggap sangat tidak sesuai dengan
moral masyarakat kita. Free seks
sendiri dilakukan oleh kaum yang memuja valentine karena dianggap dengan
melakukan seks kita dapat menunjukkan betapa besar rasa sayang kita terhadap
pasangan yang kini berkembang bukan hanya untuk pasangan akan tetepi juga untuk
orang orang yang berada dalam suatu pesta perayaan bisa melakukan hal tersebut.
Ini
tentu saja tidak bisa kita kita terima begitu saja karena sangat bertolak
belakang dengan budaya ataupun nilai-nilai yang masyarakat kita anut. Selain
itu, free seks juga dapat dengan mudah menularkan berbagai penyakit apalagi
jika orang yang melakukannya tidak mengerti dampak serta efek yang ditimbulkan sehingga
perayaan ini juga ditolak oleh beberapa negara di dunia seperti di kawasan
timur tengah dan sekitarnya.
Hal
lain yang membuat valentine tidak dapat diterima begitu saja oleh masyarakat
kita karena biasanya pada saat perayaan valentine, orang-orang di negara pemuja
valentine kerap menggunakan minuman keras sebagai media untuk memperlarut dan
mengentalkan suasana pesta.
Meskipun
demikian, di era modern saat ini valentine mungkin sudah tidak lagi menjadi hal
tabuh dan telah masuk ke berbagai negara di dunia. Tentu saja dengan cara
mengurangi atau bahkan meniadakan perayaan perayaan yang bersifat negatif
seperti free seks dan minuman keras seperti
tadi. Mereka hanya mengambil hal positif yang ditimbulkan karena valentine
tentu saja dapat mempererat tali silaturrahmi antar sesama. Selain itu
masyarakat juga bisa saling mengingat atau bahkan berinteraksi kembali dengan
sanak keluarga ataupun kenalan yang sudah lama tidak ditemui.
Dengan
perayaan valentine, biasanya pasangan baik yang sudah terikat ikatan pernikahan
ataupun yang belum, kembali merajut hubungan seperti sedia kala dengan
melupakan hal-hal yang sudah terjadi.
Kita
bisa saja menerima budaya barat ini, akan tetapi kita juga harus mengetahui dan
mengerti dampak dampak yang akan terjadi apabia kita melakukannya dengan
berlebihan. Kita cukup daling bertukar hadiah, tidak perlu sampai bertukar
tubuh. Kita hanya perlu meminum apa yang tidak memabukkan, tidak perlu samppai
meminum minuman keras. Sekiranya dengan pengertian yang lebih mendalam, segala
sesuatu yang bersifat neagatif dapat kita minimalisasi ata bahkan kita hindari. seangangga@gmail.com, twitter.com/seanhatemonday
